Bagi umat Paroki Tobelo, Misa dengan Ordinarium berbahasa Latin sebenarnya bukan hal yang benar-benar baru. Jauh sebelum dibicarakan kembali akhir-akhir ini, umat sudah pernah mendengar bahkan menyanyikan lagu-lagu Misa Cantate gubahan Pastor Jo Ansow Pr dalam berbagai perayaan. Melodinya yang khas dan ritmenya yang tenang masih terasa akrab di telinga, seolah mengingatkan kita pada kekayaan tradisi Gereja yang tetap hidup sampai hari ini.
Menariknya, proses latihan lagu-lagu Misa Cantate tata suara baru ternyata berjalan lebih mudah dari yang dibayangkan. Banyak anggota rukun, bahkan yang merupakan eks anggota gereja Protestan, dapat mengikuti dengan cepat. Hal ini menunjukkan bahwa musik liturgi memiliki bahasa universal—ia menyatukan, bukan membatasi. Fokus pada melodi yang sederhana dan pengulangan teks justru membantu semua orang merasa “masuk” tanpa beban.
Tentu saja, ada tantangan yang tidak bisa dihindari. Misa Cantate dengan tata suara baru, sedikit berbeda dengan aransemen aslinya, sehingga umat dan anggota koor perlu belajar kembali notasi dan cara menyanyikannya dengan tepat. Bagi sebagian orang, ini terasa seperti kembali ke bangku latihan. Namun justru di sinilah letak prosesnya: belajar bersama, bertumbuh bersama, dan perlahan menikmati keindahan liturgi yang tertata.
Kabar baiknya, anggota koor sangat menikmati pengalaman ini. Lagu-lagu Misa Cantate dengan tata suara baru yang pendek, sederhana, dan tidak berbelit-belit membuat suasana latihan menjadi lebih ringan dan menyenangkan. Tanpa kehilangan kekhusyukan, mereka bisa bernyanyi dengan hati gembira dan penuh penghayatan.
Pada akhirnya, Ordinarium Misa Latin di Paroki Tobelo bukan sekadar soal bahasa atau notasi. Ini adalah perjalanan iman yang mengajak umat untuk kembali menyelami kekayaan tradisi Gereja, sambil tetap melangkah bersama dalam semangat kebersamaan.
Dari Tobelo, kami belajar bahwa tradisi lama bisa tetap hidup, segar, dan menginspirasi—asal dijalani dengan hati yang terbuka.
Salam dari Tobelo 🙏
Bennie Ulahayanan (pelatih koor)